virgianti

Thursday, May 11, 2006

Wisata di Singapore, asyik....


Wajarlah kalau orang banyak memilih Singapura sebagai tempat liburan dan belanja. Sebab, objek wisata disana benar-benar dikelola secara sempurna sehingga sangat berkesan bagi wisatawan yang datang. Salah satunya adalah Pulau Sentosa.
-------------------
CUACA panas sekitar 30 derajat Celcius ternyata tak menyurutkan minat wisatawan asing mengunjungi Pulau Sentosa. Sebab, pemandangan dan fasilitas hiburan di sana membuat para pengunjung merasa nyaman.
Namun,untuk menetralisir cuaca panas tersebut, pihak pengelola objek wisata Pulau Sentosa ini tak kehilangan akal. Di setiap sudut objek wisata itu memang banyak ditempatkan kipas angin. Tapi, kipas angin yang disediakan bukan kipas angin biasa. Ada semburan air setiap kali kipasnya berputar. Akibatnya, cuaca di sekitarnya menjadi sejuk. Salah satu tempat favorit di tempat itu adalah Carlsberg Sky Tower. Di tower dengan ketinggian 110 meter ini, kita dapat menikmati pemandangan di sekitar pulau dengan luas 400 hektare ini. Untuk memudahkan para pengunjung menikmati pemandangan, menara ini di-setting dapat berputar 360 derajat. Beberapa pemandangan yang bisa dinikmati, antara lain, pelabuhan, patung Merlion terbesar yang dibangun pada 1995, pulau-pulau lain di sekitar Pulau Sentosa, serta objek wisata lainnya. Untuk naik ke menara ini, turis harus bayar 10 dolar Singapura untuk dewasa dan 6 dolar Singapura untuk anak-anak. Setelah dari Carlsberg Sky Tower kita dapat mengunjugi Images of Singapura. Tempat ini dulunya sebuah rumah sakit. Namun, saat ini disulap menjadi sebuah museum yang berisi berbagai macam kebudayaan yang ada di Singapura. Selain itu, di dalamnya juga terdapat tempat yang dulu digunakan sebagai kantor empat pengusaha -- India, Tiongkok, Malaysia, dan Inggris-- yang bergerak di bidang perdagangan. Saat memasuki ruangan ini, pengunjung disuguhi slide mengenai dunia perdagangan. Uniknya, pada slide tersebut terlihat seorang gadis yang keluar dari sebuah kotak, kemudian memberikan petunjuk bagaimana perdagangan pada waktu itu. Setelah dari situ kita akan mulai memasuki ruangan yang menampilkan berbagai patung lilin yang menggambarkan orang-orang penting di zaman itu. Dengan detail yang sangat jelas dan wajahnya juga hampir mirip dengan aslinya. Misalnya, penemu Singapura, para pengusaha Singapura yang berperan di negara ini, serta penemu bunga vanda jenis anggrek Miss Joaquin. "Makanya bunga anggrek menjadi bunga nasional bagi negara Singapura," ujar pemandu wisata Fern Wong Siu Huang yang mendampingi Sumatera Eskpres. Hal lain yang dipamerkan dalam museum ini adalah patung lilin mengenai kegiatan kebudayaan di berbagai negara serta agama. Mulai dari negara India, Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Tiongkok. Salah satu kegiatan yang ditampilkan adalah wayang Tiongkok, wayang kulit, layang-layang, festival Deepavali, dan di penghujung ada suasana Singapura saat baru merdeka. Yang menarik, tempat ini juga dilengkapi dengan pusat cenderamata serta restoran "Taste of Singapura" yang menyuguhkan makanan Asia. Setelah itu, turis bisa melanjutkan perjalanan menuju ke Sentosa Luge. Di sana, mereka bisa mengendarai luge yang membawa turis mengelilingi tempat-tempat tertentu. Dan ketika kita akan kembali ke tempat semula, disediakan sebuah chairlift (kereta gantung) yang dapat digunakan untuk melihat pemandangan di sekitar pulau yang mempunyai nama panjang Aman dan Sentosa ini. Beberapa tempat lain yang dapat kita kunjungi adalah Sentosa 4D Magix. Di sini pengunjung bisa menonton film. Tapi, beda dengan bioskop biasa, mereka merasa seperti terlibat dalam sebuah petualangan dalam film. Selain itu, pengunjung bisa merasakan bagaimana saat tokoh dalam film itu dipukul, disengat lebah, digigit kepiting, ataupun ketika di serang laba-laba jahat. Atau ikut juga basah saat ada adegan penyemprotan air. Tampaknya ada alat khusus untuk memercikkan air ke muka penonton. (Santi Virgianti)

Friday, March 03, 2006

Artroskopis, Bedah dengan Sayatan Kecil


Cedera pada persendian, khususnya sendi lutut bisa mengenai siapa saja. Terutama, kelompok usia diatas 50 tahun dan para olahragawan. Cedera lutut tersebut akan menimbulkan rasa nyeri yang hebat. Kalau dibiarkan tanpa penanganan penderitanya akan kesulitan untuk menggerakkan kakinya. Lantas, biasanya dokter menyarankan agar menjalani operasi.
Mendengar kata operasi, orang pasti akan langsung merasa khawatir. Bayangan pisau bedah yang merobek tubuh sangat mengerikan. Belum lagi, lamanya masa pemulihan di rumah sakit membuat sebagian orang memutuskan untuk menghindari operasi. Padahal, semua hal yang menakutkan itu akan sirna kalau orang mengetahui ada system pembedahan dengan Artroskopis. Seperti apa sih ?
Artroskopis merupakan system pembedahan dengan sayatan yang sangat minimal atau sedikit (minimal invasive). Dengan artroskopis, lutut pasien tidak perlu dibuka lebar, cukup hanya membuat lubang sebatas diameter kamera ada di ujung pipa yang digunakan untuk melihat ke dalam sendi. “Sayatannya hanya dalam hitungan milimeter kok,” terang dr Nur Rachmat Lubis SpBO dalam Temu Pers Kunjungan Ahli Ortopedik Jerman ke rumah sakit Mohammad Husein (RSMH) Palembang kemarin. Selanjutnya, gambaran yang tertangkap di kamera ditayangkan di layar monitor yang ada di ruangan tempat dilakukannya prosedur tersebut.
Dijelaskan Rachmat, tren permintaan tindakan artroskopi di RSMH cenderung meningkat dalam tiga tahun terakhir. Hal ini diikuti dengan meningkatnya kasus nyeri sendi terutama cedera pada sendi lutut yang dialami oleh para olahragawan dan orang lanjut usia. “Kalau data pastinya belum kita rekap, namun, pertahunnya sekitar 50 pasien yang datang dengan keluhan nyeri sendi, baik itu karena penyakit persendian maupun cedera olahraga,” jelasnya.
Tetapi, tindakan artroskopis membutuhkan peralatan yang canggih dengan tenaga ahli yang terlatih. Saat ini, sub departemen ortopedik Departemen Bedah RSMH memiliki 3 dokter spesialis bedah ortopedik yang ahli dalam artroskopis. Jumlah ini tentu tidak cukup untuk memenuhi permintaan masyarakat. Karenanya, didatangkanlah ahli ortopedik dari Jerman. Selain itu, karena alat artroskopis yang ada sudah tua dan tidak berfungsi optimal, maka rencananya tahun ini RSMH akan mendatangkan dua alat artroskopis lagi.
Direktur RSMH yang diwakili Ketua Komite Medik dr Anang Tribowo menjelaskan, ahli ortopedik dari jerman ini Prof Bernhard Rieser datang untuk membagi informasi terkini ilmu bedah artroskopis selama dua hari. “Prof Rieser ini akan memberikan ceramah sekaligus studi kasus, praktek langsung menangani operasi artroskopis,” jelas Anang.
“Banyak keuntungan dari teknik artroskopis ini,” sambung Prof Rieser. Selain tindakannya relatif lebih singkat, waktu pemulihannya juga lebih cepat. Pasien cukup istirahat selama 1-2 hari di rumah sakit kemudian dilanjutkan dengan rawat jalan. “Kalau untuk atlet yang cedera, dalam waktu enam bulan dia sudah bisa bertanding lagi,” tambah Rieser. (39)

Pusat pelayanan andrologi dan genetika Bagian Biologi Kedokteran FK Unsri

Dari analisa sperma hingga tes DNA

Permasalahan organ reproduksi memang cukup kompleks, terutama bagi pria. Adanya gangguan alat reproduksi inilah yang terkadang menjadi penyebab pasangan suami istri tidak memiliki keturunan. Untuk bisa mengobati gangguan tersebut, perlu adanya beberapa pemeriksaan terkait dengan organ reproduksi pria. Bagi masyarakat yang membutuhkan pelayanan itu cukup datang ke Bagian Biologi Kedokteran Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Sriwijaya

------------------------
SANTI VIRGIANTI-Palembang
------------------------

BAGIAN Biologi Kedokteran tersebut terletak di lantai 2 Kampus FK Unsri di Jl dr Mohammad Ali Kompleks (belakang) RSU M Hoesin Palembang. Memang, lokasi pusat pelayanan andrologi dan genetika yang dibuka untuk umum ini tempatnya tidak begitu strategis. Sehingga, masyarakat umum banyak yang belum mengetahui adanya pelayanan kesehatan reproduksi pria dan genetika.
Padahal, di sini tersedia laboratorium dengan fasilitas lengkap dan petugas ahli di bidangnya. Berbagai peralatan canggih disediakan bagi masyarakat yang ingin melakukan pemeriksaan masalah ketidaksuburan (infertilitas) dan masalah genetika.
Misalnya pemeriksaan sperma, air mani (semen), masalah kromosom seks, dan analisis DNA. “Disini juga bisa mendapatkan informasi mengenai kelainan alat kelamin anak laki-laki,” terang Prof dr KM Arsyad, staf ahli di Bagian Biologi Kedokteran FK Unsri. Misalnya anak laki-laki dengan alat kelamin yang kecil (mikropenis).
Bukan hanya itu, di bagian ini juga bisa didapatkan informasi mengenai kelainan tumbuh kembang anak, kelainan bawaan dan beberapa penyakit yang bisa diturunkan melalui perkawinan.
Sebelum melakukan pemeriksaan, biasanya masyarakat yang datang akan berdialog dengan para tenaga ahli. Mereka bisa berkonsultasi mengenai permasalahan yang mereka hadapi. Apakah itu masalah ketidaksuburan pasangan suami istri, gangguan fungsi seksual, ataupun masalah ukuran organ intim laki-laki. “Misalnya seorang suami yang memiliki masalah dengan alat reproduksinya bisa menceritakan kondisinya tanpa rasa takut dan malu. Karena saat berkonsultasi, hanya ada dia dan dokter yang bertugas. Kerahasiaan dijamin, jadi jangan takut,” urai Arsyad.
Selain masalah ketidaksuburan (infertilitas), masyarakat juga bisa mendapatkan informasi mengenai penyakit bawaan yang bisa diturunkan kepada anak. Misalnya diabetes mellitus (kencing manis) dan tekanan darah tinggi. Atau penyakit yang berkaitan dengan kromosom seks seperti anemia atau buta warna. “Kita juga bisa memberikan nasihat perkawinan terkait penyakit bawaan tadi,” terangnya.
Dalam melakukan pemeriksaan, semuanya menggunakan peralatan yang canggih dan sesuai standar badan kesehatan dunia (WHO). Diantaranya, Olympus BH 2, inkubatr, balance dan freezer. Kemudian, ada juga microphotography, alat ini bisa memotret sekaligus menampilkan sperma yang diperiksa secara visual. Jadi, sampel sperma yang diambil bisa diperiksa dan diperlihatkan melalui televisi.
Bahkan, dalam waktu dekat, laboratorium ini akan memiliki dua unit alat pemeriksaan DNA. Alat ini merupakan bantuan dari Universitas Medical Centre St Radboud Nijmegen Netherlands. Dengan alat yang harganya Rp 300 juta satu unit itu bisa dilakukan tes DNA, jika orang ingin memperjelas siapa orang tuanya. (*)

Suci penderita Hidrocephalus

Kepala membesar, tak ada uang untuk operasi

Saat lahir, Suci (2,5 bulan), anak keempat pasangan Wati (34) dan Saadi (35) ini tidak terlalu memperlihatkan kelainan. Hanya kepalanya yang terasa lebih lembut jika dibandingkan dengan bayi lainnya. Namun, perlahan-lahan kepalanya membesar dan dia dinyatakan sebagai penderita Hidrocephalus. Menurut dokter, dia bisa dioperasi, namun, karena tidak ada biaya, Suci terpaksa hanya tinggal di rumah.

SANTI VIRGIANTI-Palembang

Sebenarnya Suci bayi mungil yang cukup manis. Wajahnya yang imut dan kulit putihnya bisa membuat gemas siapa saja yang melihatnya. Sayangnya, kelainan di kepalanya membuat Suci tidak seperti bayi lainnya.
Besarnya ukuran kepala membuat tubuh mungilnya seperti keberatan membawa beban. Sehingga, badan, atau kaki dan tangannya tidak bisa bergerak lincah seperti layaknya anak seusia dia. Pandangan matanya juga hanya ke satu arah dengan kelopak mata yang sedikit menutup sepintas seperti sedang tidur. Wajahnya juga tidak menunjukkan suatu ekspresi apapun. “Dia hanya bereaksi menangis kalau buang air atau lapar,”ujar Wati ibunya ketika mendatangi Koran ini kemarin.
Kepada wartawan Koran ini ini, Wati menceritakan bagaimana kondisi anaknya. Menurutnya, saat mengandung anak keempatnya ini tidak mengalami kendala yang cukup berarti. Seperti saat mengandung anak-anak yang lain sebelum Suci, dia tidak pernah memeriksakan kandungannya ke bidan atau puskesmas.
Sebab, keterbatasan biayalah yang menyebabkannya tidak pernah mau ke pelayanan medik untuk memeriksakan janinnya. Jangankan untuk ongkos ataupun biaya pemeriksaan, untuk makanpun, warga Jl Segaran Lr Terusan No 178 14 ilir ini terpaksa harus mengencangkan ikat pinggang. Bagaimana tidak, suaminya Saadi yang tukanng becak memiliki pendapatan sangat minim. “Kalau lagi sepi, sehari hanya dapat duit lima ribu,” katanya lirih.
Untungnya, ketiga anaknya lahir sehat dan normal-normal saja. Namun, ketika giliran Suci, janinnya sempat mengalami sungsang. Karena itu dia melahirkan di rumah sakit. Padahal, biasanya dia hanya melahirkan dengan bantuan bidan.
Ketika lahir, kepala Suci terasa lembut sekali. Untuk itu, setelah lahir, dia mesti dirawat inap di rumah sakit selama 10 hari. Setelah keluar dari rumah sakit, belum terlihat kelainan pada Suci. Namun, sebulan terakhir ini kepalanya membesar. Menurut dokter, Suci menderita Hidrocephalus. Dan harus dioperasi. Sayangnya, untuk mengoperasinya membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Padahal, dengan penghasilan yang pas-pasan, Saadi tidak bisa menyisihkan penghasilannya untuk biaya operasi. Apalagi, anaknya yang lain juga membutuhkan biaya sekolah. Karena itulah Wati sangat mengharapkan uluran tangan para dermawan. (*) Harmein,

Harmein, Pencipta Alat Pengobatan Tradisional Madu Tangas

Dari resep leluhur bisa sembuhkan berbagai penyakit

Kemampuan menjadi pengobat tradisional didapat Harmein dari orang tua bahkan kakek neneknya. Karena rasa gengsi, dia tidak mau menekuni bidang ini. Namun, perkenalannya dengan Ketua Sentra Penerapan dan Pengembangan Pengobatan Tradisional (SP3T) Sumsel Prof dr Azwar Agoes DAFK SpFK membuatnya berfikir lain. Akhirnya Harmein mau terjun ke dunia pengobatan tradisional sehingga menciptakan alat pengobatan tradisional diberi nama Madu Tangas Harmein yang sedang diproses pembuatan Hak Paten oleh Departemen Hukum Dan Hak Asasi Manusia RI Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (HAKI).

----------------------------

SANTI VIRGIANTI-Palembang
-----------------------------------

Penampilan Harmein tidak seperti para pengobat tradisional (Battra) lainnya. Sepintas, malah seperti pegawai biasa. Orang tidak akan menyangka kalau pengetahuan dan kemampuannya mengenai pengobatan tradisional cukup banyak.
Menjadi seorang Battra bukan cita-cita Harmein. Malah dia sempat ingin menjadi penerbang dengan masuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Penerbangan. Namun, sejak kecil, Harmein sudah akrab dengan pengobatan tradisional.
Sebab, ayahnya sering mengobati orang sakit di kampungnya di dengan menggunakan teknik tangas. Yakni dengan menggunakan pondok kecil yang dinamakan Anjung Tangas yang dibawah lantainya ada air rebusan ramuan yang asapnya bisa menghangatkan tubuh pasien yang berada di dalam pondok kecil. “Pasien disuruh masuk ke dalam anjung tangas itu sekitar 30 menit,”terangnya.
Berbeda dengan ayahnya, kakek Harmein sering mengobati pasien dengan menggunakan teknik Canduk Darah. Sistem kerja teknik ini, punggung pasien ditusuk-tusuk dengan peniti, kemudian ditutup dengan potongan bambu panas. Setelah dingin, bamboo panas tadi kembali dipanaskan dan ditutupkan ke bagian tubuh lainnya. Teknik lain yang digunakan oleh kakeknya adalah Pupuran Uap. Yakni potongan bambu-bambu dengan diameter 10 mm dan panjang 40 cm diikat dengan rotan berbentuk silinder menjadi satu kemudian dimasukkan ke dalam periuk atau wajan yang telah beris air dan ramuan herba. Periuk ini diletakkan pada tungku sedemikan rupa dan diapit potongan kayu dan dibuat tempat berpegang. Dibawahnya ada tungku yang dinyalakan. Pasien disuruh untuk berjalan diatas potongan bambu tadi.
Semua apa yang dilakukan kakek dan ayahnya tidak menggugah Harmein untuk mengikuti jejak mereka. Hingga suatu hari dia berkenalan dengan Prof dr Azwar Agoes DAFK SpFK Ketua Sentra Penerapan dan Pengembangan Pengobatan Tradisional (SP3T) Sumsel. Dia diminta untuk membantu penelitian tanaman obat di Hutan TNKS Lubuk Linggau. “Saya berfikir, mengapa seorang profesor mau meneliti obat tradisional. Sedangkan saya sudah sangat akrab dengan pengobatan tradisional tidak mau,”katanya.
Selain itu, anaknya juga sempat mengalami sakit yang cukup parah, dan sembuh setelah dipijat. Itulah yang membuat Harmein memutuskan untuk membuka praktek pijat jari pada tahun 2001. Kemudian, pada tahun 2003, Harmein membuka pengobatan terapi Tangas seperti yang dilakukan ayahnya. Dan ternyata, animo masyarakat cukup tinggi. Pasien yang datang cukup banyak. “Mulai dari sakit kepala, depresi, stress, darah tinggi, migren, sakit pinggang, isomnia, vertigo hingga sakit lambung,”ujar Pengurus SP3T Lubuk Linggau.
Karena banyak yang sembuh, Harmein meneruskan prakteknya yang mendapat izin Dinkes Sumsel dan Kejaksaan Negeri Lubuk Linggau ini. Dia juga menyempurnakan alat bantunya menjadi ciptaan baru alat Terapi Tangas Sarang Madu.
Alat Terapi Tangas Sarang Madu ini terdiri dari tiga komponen alat. Yakni Tongkat Sentuh Nadi dan Syaraf, Perkusi Kejut dan Anjung Tangas Sarang. Dijelaskan Harmein, tongkat sentuh nadi dan syaraf berfungsi untuk mebantu merangsang, memecahkan gumpalan pada jalan darah dan syaraf. Tongkat ini awalnya terbuat dari batu pualam, sekarang diganti dengan bahan tanduk hewan.
Sedangkan Perkusi Kejut terbuat dari tongkat berlubang pada permukaannya yang berbentuk palu. Fungsinya hampir sama dengan tingkat sentuh, tapi bisa juga merangsang jalan darah dan syaraf yang berhubungan dengan organ tubuh yang sakit. “Ini merupakan modifikasi dari alat Canduk Darah yang digunakan kakek saya,”jelas Hermain.
Selanjutnya Anjung tangas Sarang Madu. Alat ini merupakan perpaduan dari Pondok Tangas dan Pupuran Uap yang digunakan ayahnya. Fungsinya untuk merangsang pengeluaran racun, lemak dan sisa proses metaboliems tubuh. Sekaligus menyalurkan uap air herba ke dalam tubuh, baik melalui mulut hidung, rongga mata dan telinga. “Khasiat herba itu akan masuk ke dalam tubuh berwujud uap air hangat dan dapat langsung ke sasaran atau bagian tubuh yang sakit,”urainya. Harmein juga sempat mendata pasien yang sembuh diobati dengan alat ini. Pada tahun 2004, dari 92 pasien yang diobati, 48 diantaranya sembuh dengan diobati alat Kejut Perkusi. Kemudian, 526 pasien sembuh dengan alat sarang madu dari 765 paien yang diobati.
Bagi yang ingin merasakan khasiat alat itu bisa datang ke tempat prakteknya di Jl Yos Sudarso No 22 RT 12 Kelurahan Taba Koji Lubuk Linggau No Telp (0753) 324552 Dia juga memberikan kesempatan bagi yang ingin membuka praktek dengan alat itu. Cukup dengan membeli satu paket alat madu Tangas Harmein seharga Rp 10 juta, akan diajarkan cara penggunaannya.
Menanggapi alat ini, Prof dr Azwar Agoes DAFK SpFK mengatakan, sistem yang digunakan alat itu mengandung beberapa prinsip dari Naturopati. Yakni metode hidroterapi (terapi air), aroma terapi, perkusi (totok darah) dan akupunktur. “Karena alat ini sudah terbukti secara empiris bisa meringankan sakit, maka sangat baik kalau oleh setiap rumah sakit atau pelayanan medik di Sumsel. “Karena itulah SP3T Sumsel yang berpusat di Palembang juga akan membuka praktek dengan menggunakan alat itu,”paparnya. (*)

Pengalaman Kholisah diterapi Reiki-Ling Chi

Kista di ovariumnya mengecil


Sejak masih usia belasan tahun, Kholisah mengalami nyeri haid yang parah. Setelah diperiksa ternyata, ada kista di indung telurnya. Karena itu, dokter menyarankan agar dia operasi. Karena takut, dia ingin mencoba dengan pengobatan alternatif, tetapi tidak juga sembuh. Akhirnya, dia mencoba terapi komplementer Reiki-Ling Chi.

---------------------------------------
SANTI VIRGIANTI-Palembang
---------------------------------------

KETIKA ditemui Koran ini kemarin, Kholisah terlihat segar dan cerah. Tidak terlihat kalau selama ini dia ada problem dengan menstruasinya. Sejak mendapat menstruasi pertamanya saat masih duduk di bangku SLTP, Kholisah selalu tersiksa pada hari pertama hingga kedua tiap minggu. “Biasanya kalau hari pertama hingga hari ketiga menstruasi saya merasakan sakit yang luar biasa,” cerita warga Jl Ogan Bukit Besar ini
Saking sakitnya, setiap hari pertama, gadis kelahiran 11 Mei 1977 ini tidak bisa melakukan aktivitas apapun. Hanya bisa berbaring di tempat tidur sambil menahan sakit. Biasanya nyeri itu akan berkurang, menstruasinya sudah keluar dengan lancar. Karena itu, agar lancar, biasanya dia meminum obat pelancar haid yang dibelinya secara bebas. Itupun tidak banyak membantu.
Karena sakit yang dialaminya itu tidak pernah berhenti bahkan semakin hebat, Kholisah akhirnya memeriksakan diri ke dokter ahli kandungan. Setelah di USG, ternyata di dalam ovarium sebelah kanan ada kista yang besarnya sekitar 20,7 mm x 20,3 mm Dokter, menyarankan agar dia dioperasi untuk mengangkat kista tersebut.
Hanya saja, disarankan agar dilakukan operasi setelah menikah dan melahirkan. Untuk sementara dia hanya diberi resep obat penghilang rasa nyeri dan untuk mengendalikan kistanya agar tidak bertambah besar. Namun, obat-obatan itu tidak juga membantu. Rasa sakit dan menstruasi tidak lancar masih tetap dialaminya. Karena itu dia mencoba dengan pengobatan tradisional dengan tanaman yang dipercaya bisa mengecilkan kista. Tetapi tetap saja tidak ada perubahan.
Hingga suatu saat, ketika tinggal dengan kakaknya di Jakarta, dia mendengar talk show mengenai metode penyembuhan komplementer Reiki-Ling Chi.selesai talkshow, narasumber, salah satu master Reiki-Ling Chi menggelar penyembuhan jarak jauh. Bagi yang ingin mengikuti, cukup dengan mendengar instruksi dari radio.
Karena penasaran, Kholisah mengikuti penyembuhan itu dengan iseng. Kebetulan, saat itu merupakan hari pertama dia mengalami menstruasi. Setelah mengikuti penyembuhan itu, ajaib menstruasinya keluar dengan lancar. Selain itu, rasa sakit yang biasanya datang, tiba-tiba hilang. “Biasanya kan hari pertama itu sakit sekali sampai tidak bisa melakukan aktivitas apapun. Eh sejak pagi setelah mengikuti penyembuhan hingga malam hari tidak sakit. Besoknya juga. Keluarnya juga lancar,” cerita putri pasangan Abd Bari Umar dan Rusnani ini.
Karena mendapat pengalaman yang menyenangkan, Kholisah mencoba cari tahu dimana dia bisa mengikuti penyembuhan itu lagi. Ternyata, klinik penyembuhan itu ada cabangnya di Palembang. Karena itu, ketika balik ke kampung halamannya (Palembang-Red), Kholisah langsung mendatangi Kliniknya di Jl Bangau No 499 D/1269. Setiap minggu dia rutin mengikuti penyembuhan tanpa obat-obatan dan alat itu.
Setelah sekitar empat bulan mengikutinya, ada banyak perubahan yang dirasakan Kholisah. Menstruasi setiap bulannya menjadi lancar dan tanpa ada rasa sakit. Karena ada perubahan tersebut, Kholisah memutuskan untuk memeriksakan diri ke dokter. Ternyata, meskipun tidak hilang kista yang ada di ovariumnya mengecil hingga 10 mm. “Memang menurut dokter, kista itu tidak akan hilang kalau belum melahirkan, “ terangnya. (*)

Misanah, pasien tumor vagina

Saat tumor mengganas, suami kabur

Di saat Misanah berjuang melawan ganasnya tumor di vagina, si suami pergi meninggalkannya. Apalagi, untuk berobat, Misanah harus menempuh perjalanan cukup jauh, yakni dari Jambi ke Palembang.

SANTI-Palembang

KASIHAN benar nasib Misanah (36). Ibu beranak satu ini menderita tumor di kemaluannya (vagina). Ketika ditemui koran ini beberapa hari lalu di sal kebidanan RSMH, warga Jambi ini terlihat sangat lemah. Badannya yang kurus seolah hanya kulit pembungkus tulang. Sedangkan di bagian kemaluannya ada daging tumbuh sebesar bola kasti. Wajahnya yang tirus terlihat meringis karena menahan rasa sakit akibat tumor ganas yang dideritanya itu.
Menurut Herman, kakak Misanah, tumor ini sudah menyerang ketika adiknya masih gadis. Saat itu, benjolan itu baru sebesar ibu jari. “Tumor itu berhasil diangkat di RSUD Jambi,” terangnya saat menjaga adiknya.
Kemudian, tumor muncul lagi pada tahun 2001. Karena tumornya sudah besar, maka dia dirujuk ke RSMH Palembang. Diringi dengan kambuhnya tumor, Solihin suami Misanah pergi begitu saja meninggalkan dia dan dua anaknya. Padahal, saat itu, Misanah lagi butuh dukungan moril dan materil dari sang suami.
Karena itu, keluarga Misanah, harus menjual dua ekor kerbau peliharaan untuk membantu biaya pengobatannya. “Saya ini kerja di sawmill mbak, sedangkan orang tua kami sudah tua dan hanya memiliki kerbau yang setiap hari membantu kerja di sawah. Namun, karena butuh biaya untuk operasi, kerbau terpaksa harus dijual,” ceritanya.
Dengan uang hasil penjualan kerbau, Misanah bisa dioperasi di RSMH Palembang. “Daging sebesar telur ayam berhasil dikeluarkan, “ kata Herman.
Kemudian, tumor itu kembali muncul lagi pada tahun 2004. Misanah kembali diboyong ke Palembang. Sesampai di rumah sakit, tim medis mengatakan, dia harus menjalani pengobatan kemoterapi beberapa kali seminggu di RSMH. “Menurut dokter, kemoterapi tidak harus menjalani rawat inap, jadi kami disuruh pulang, datang lagi pada hari yang dijadwalkan,” terangnya.
Tetapi, karena tidak memiliki keluarga di Palembang, maka keluarganya memaksa agar tinggal di rumah sakit. Sayangnya, pihak rumah sakit tidak mengizinkan Misanah masuk sal. “Alasannya karena tempat tidur lagi penuh,” cetus Herman. Terpaksa, Misanah harus tidur di gang depan sal kebidanan sambil menunggu jadwal kemoterapi berikutnya.
Ketika dikonfirmasi masalah itu, Kepala Instalasi kebidanan RSMH dr Amir Fauzi SpOG terkejut. “Masak ? Dimana pasiennya, ayo kita lihat, “ajak Amir kepada wartawan koran ini Senin (14/11).
Tiba disana, Amir langsung memeriksa tempat tidur di sal kebidanan. Saat dilihatnya masih banyak tempat tidur yang kosong, Amir langsung menginstruksikan agar Misanah segera dipindahkan.
Menjelaskan hal itu, Amir mengaku tidak mengetahui kejadian sebenarnya. Menurutnya, memang secara prosedural, pasien kemoterai memang tidak menjalani rawat inap. Namun, ada pertimbangan sosial untuk bisa menerima pasien rawat inap. Salah satunya pertimbangan rumah jauh, tidak ada keluarga dan warga miskin. “Dengan pertimbangan itu, pasien harus tetap diterima rawat inap,” jelasnya. (*)

Friday, February 24, 2006

Oh…Valentine !

Palembang, 13 Februari 2005 (14 Muharram 1427)


Besok adalah hari Valentine. Kamu bakal dapet atau ngasih kado apa dari/ke orang-orang yang kamu sayangi ? Begitu, biasanya orang bertanya. Valentine ? Hari kasih sayang ?
Menanggapi hari kasih sayang tersebut, beberapa tahun belakangan saya mengubah pola pikir. Kalau dulu, saya seolah terhanyut dengan budaya hari valentine. Kalau tidak ngasih kado, sekedar mengucapkan met valentine saya lakukan. Tapi, setelah saya tahu kalau valentine merupakan tradisi yang sarat dengan misi permutadan, dengan sepenuh hati saya hindari hal-hal berbau valentine.
Ngomong-ngomong soal valentine. Saya teringat dengan orang-orang yang menyayangi dan sangat saya sayangi. Mulai dari almarhum ibu, bapak, ayuk-ayuk, kakak, keponakan, hingga sahabat-sahabatku. Mereka tak perlu menunggu hari valentine untuk menunjukkan rasa cinta mereka kepadaku. Meskipun ekspresi cinta itu jarang diucapkan secara verbal. Apakah dengan kata-kata atau memberi hadiah..
Ada satu kisah yang hingga kini selalu ku ingat. Waktu itu aku masih duduk di bangku SD. Saat itu badanku terasa tak enak. Aku demam tinggi dan tidak bisa bangun. Saat itu, kedua ortuku seperti biasa masih di pasar untuk berjualan. Beliau berdua memang mesti terus menginap di pasar karena berjualan sejak dari sesudah subuh hingga malam.
Siangnya, demamku berkurang, sehingga sorenya aku kembali bermain dengan teman-temanku di lapangan dekat rumah. Saat main, kulihat ibuku datang dengan ayukku. Suatu hal yang sangat membuat aku gembira, sebab, ibu dan bapak hanya menginap di rumah saat ramadhan. Sambil keheranan campur gembira aku menyongsong kedatangan mereka. “Kok ibu datang, ?”.
Sambil tersenyum hangat ibu mengatakan, dia pulang karena aku sakit dan ingin merawatku di rumah. Mendengar itu aku jadi malu. Sebab, saat aku sedang berlari-lari main ye-ye dengan teman-teman. Artinya aku sudah sembuh.
Melihat raut wajahku, ibu mengatakan kalau tidak masalah dia menginap meskipun aku sudah sembuh. Sebab, beliau mengatakan kalau dia ingin selalu ingin tidur bersamaku di rumah. Tetapi kondisi yang tidak memungkinkan.
“Aku sangat terharu dan senang sekali malam itu,”. Itu salah satu ekspresi cinta ibu yang tak pernah berhenti mengalir untukku.

Pukul 21.00 WIB.
For my mom. I Miss U. Maafkan anakmu yang durhaka. Terutama, di bulan-bulan terakhir menjelang kepergianmu.
Ya Allah, tempatkanlah ibu di tempat terbaik di sisi-Mu. Jangan biarkan siksa kubur menyentuhnya.


Meski Sembuh, Tetap Tak Diterima Keluarganya



Kasto, bekas penderita kusta

KASTO (35) tidak pernah membayangkan sebelumnya kalau akan terkena penyakit kusta. Akibat penyakit itu, Karto tidak diterima lagi oleh keluarganya. Padahal dirinya sudah sembuh total. Karena itulah, dia memutuskan untuk tetap tinggal di RSK Sungai Kundur dan mengabdikan diri disana.

----------------------------
SANTI-Sungai Kundur
-----------------------------

BEBERAPA orang pria tampak sedang asyik menyapu halaman bagian dalam rumah sakit Kusta (RSK) Sungai Kundur Palembang . Melihat kedatangan wartawan Koran ini datang, salah satu diantaranya tampak melirik sambil malu-malu. Ketika disapa, pria yang bernama Kasto ini terlihat malu-malu menjawab. Rupanya, mereka adalah bekas penderita kusta. Karena tidak ada pekerjaan, mereka membantu pekerjaan di rumah sakit itu dengan gaji seadanya.
Saat diajak ngobrol, Kasto tidak berani menatap mata lawan bicaranya. Kepala ditundukkan seraya tubuh dibungkukkan. Begitupun dengan teman-teman lainnya, mereka bahkan tidak berani mendekat. Sikap yang mereka tunjukkan ini bukan tanpa asalan. Sebab, selama ini mereka mendapat perlakukan yang tidak mengenakkan dari masyarakat. Banyak orang yang tidak mau mendekati mereka karena takut tertular. Sehingga, Kasto dan kawan-kawan menjadi menarik diri duluan jika bertemu dengan orang luar rumah sakit. “Jangankan orang lain, keluarga saya saja takut untuk dekat-dekat dengan saya mbak,” ujar Kasto memulai pembicaraan.
Menurut Kasto, dirinya sudah 15 tahun berada di RSK Sungai Kundur. Sepuluh tahun terakhir, dirinya sudah dinyatakan sembuh total. Oleh sebab itulah, beberapa tahun silam anak pasangan Ngarip dan Munasri ini memberanikan diri untuk pulang ke kampung halamannya di Jalur 20 Air Sugihan. Namun, tanggapan keluarganya tidak menyenangkan. Seluruh anggota keluarganya ketakutan dengan kedatangan dia. Jangankan untuk mengajak ngobrol, berdekatan saja mereka tidak mau. Dia dikucilkan di ruangan tertentu, tidur dan makan harus disana. Karena kecewa, pria yang masih lajang ini kembali ke RSK Sungai Kundur. “Saya lebih baik disini saja bantu-bantu, daripada di kampung saya dikucilkan,” katanya dengan raut wajah sedih.
Apa yang dialaminya ini tidak pernah dibayangkan Kasto. Sebelumnya dia pria sehat yang selalu membantu pekerjaan orang tuanya disawah. Suatu hari di sekujur tubuhnya muncul bercak-bercak merah. Dikira penyakit biasa, Karto hanya mendiamkan saja. Namun, makin hari bercak itu semakin banyak dan dia sering mengalami demam. Melihat itu, orang tuanya membawanya ke dukun kampung. Bukannya makin sembuh, bercak di tubuhnya bertambah banyak. Sehingga tubuhnya tampak mengerikan. Melihat hal itu keluarganya mengira kalau Karto telah terkena penyakit kutukan. Karena itu dia sempat diusir dari rumah. Untunglah, salah satu petugas puskesmas yang tahu dan menyuruhnya datang ke puskesmas. Karto dinyatakan menderita kusta dan dirujuk di RSK Sungai Kundur. Akibat penanganan yang terlambat, Karto mengalami kecacatan. Seluruh jari-jarinya mengalami pemendekkan. (*)

Pulsa Rp 20 Ribu dan Pizza Hut

Februari 2006

Pulsa Rp 20 Ribu dan Pizza Hut

“Dek, beliin pulsa dong, Rp 20 ribu aja. Lagi cekak nih, gak ada duit.” Begitu bunyi sms dari Yuk Leni mbakku yang tinggal di kota lain tapi masih satu provinsi. Membaca isi sms-nya, aku langsung merasa kesal. Bagaimana tidak, kakakku itu sudah berkeluarga dan memiliki satu anak. Dia dan suaminya sama-sama bekerja. Meskipun memang pendapatannya jauh lebih rendah dibandingkan aku. Tetapi, yuk Leni memang mbak yang seringkali menjadikanku tempat yang handal untuk “meminta”.
Baik itu secara terang-terangan meminta atau dengan menyindir. Entah itu berupa uang tunai, maupun berupa baju, jilbab atau benda lain. Selama ini, meskipun terkadang dengan rasa jengkel, permintaannya selalu kupenuhi. Bahkan, setiap kali mau pulang ke Palembang, saat lebaran atau liburan, dia memberikan syarat. “Kami mau pulang ke Palembang, asalkan ongkos balik ke Lahat, kau yang tanggung, termasuk untuk jajan Zaki keponakanmu selama di Palembang,” ujarnya ketika aku memintanya pulang saat liburan.
Karena memang sudah kangen dengannya dan Zaki, keponakanku yang lucu, biasanya aku langsung mengiyakan permintaan itu. Apalagi, aku juga tidak terlalu keberatan dengan membagikan rezekiku kepada kakak-kakak yang hidupnya masih sangat pas-pasan. Mumpung masih single, kebutuhan belum terlalu banyak. Begitu pikirku setiap kali akan memberikan bantuan uang atau pinjaman. Lagipula, sekarang ibuku sudah tidak ada lagi. Inilah caraku untuk membalas lautan kebaikan beliau, meskipun itu tidak akan pernah bisa menyamai dengan kasih Ibu yang tidak pernah putus kepadaku sepanjang hidupnya.
Tetapi, entahlah, kali ini aku merasa sebal dengan permintaan kali ini. Masak, untuk urusan pulsa pun, mesti kutanggung. Rasanya, belum dua bulan, dia merengek minta dibelikan bedak seperti punyaku agar bisa sedikit keren saat mengajar. Sudah terlalu banyak dia meminta kepadaku. Bukankan aku juga butuh uang untuk memenuhi kebutuhanku.
Tiga hari sms minta pulsa itu masuk, tetap ku acuhkan. Karena tidak mendapat tanggapan dariku, dia mengirim sms lagi dengan menggunakan hp anak kakakku yang satunya, kembali meminta agar dibelikan pulsa. “Kamu kan baru pulang dari luar kota, pasti ada dong uang sangu dari kantor,” isi sms-nya. Membaca sms itu aku tambah kesal, nih orang kok maksa sih. Sms tersebut masih juga belum kubalas. Malamnya, aku telpon dia dari kantor. “Kok pelit amat sih, minta dibeliin pulsa Rp 20 ribu aja susah,.” Protesnya. Dengan berkelit aku mengatakan kalau terlalu sibuk untuk membelikannya. “Aku gak tahu nih mesti beli dimana, kartu ATM-ku hilang, jadi, gak bisa beli pulsa dari ATM,” elakku. “Kan bisa yang pakai elektrik, gampang dan praktis kok,” jawabnya. “Ya lah, kalau sempat ke pasar, “janjiku.
Belum juga janjiku dipenuhi, teman-teman sekantor yang bisa mentraktirku minta ditraktir makan di Pizza HUT. Alasannya, karena aku tidak membawa oleh-oleh dari liputan di Bangka. “Jadi, sebagai gantinya traktir di Pizza Hut aja,” usul Mbak Upit, salah satu seniorku yang langsung diiyakan mbak Wiwik and mbak Ipit. Karena gengsi, aku langsung mengiyakan. “Tapi yang paket aja ya,” pintaku. Toh paling banyak hanya Rp 50 ribu, pikirku.
Esok harinya berlima kami pergi ke tempat jajanan yang cukup elit di kotaku. Sambil ber-ha ha hi hi, kami menikmati hidangan pizza yang lezat. Selesai makan, bill diserahkan oleh pelayan di meja kami. Di luar dugaan, ternyata yang kami makan agak mahal, yakni Rp 80 ribuan. Sekejap saja uang sebanyak itu pindah ke kasir.
Malamnya, aku termenung di kamar. Aku sungguh tidak adil. Yuk Leni yang sudah dua mingguan minta dibeliin pulsa Rp 20 ribu, hingga sekarang belum kupenuhi. Sedangkan, hanya dalam hitungan 1 X 24 jam, Rp 80 ribu uangku melayang untuk mentraktir teman-teman. Padahal, mbakku itu sedang dalam kesulitan ekonomi. Sedangkan rekan sekerjaku uangnya lebih banyak dari yang ku punya. “Maafkan aku Yuk Leni, “gumamku sambil bergegas mencari konter penjualan pulsa elektronik.

Palembang, 2 Februari 2005
Buat Yuk Leni yang sebentar lagi ultah (4 Feb). Maafin adekmu yang pelit.

Thursday, February 23, 2006

It's me


Name : Santi Virgianti
Birth of Date : 12 September 1979
Location : Palembang Sumsel, Indonesia

Assalamualaikum Wr Wb
Aaalooow.... Selamat Datang di Blog pribadi saya
Semua tentang saya ada disini lho
Termasuk tulisan-tulisanku yang pernah dipublikasikan
Wassalamualaikum Wr Wb

Friday, September 30, 2005

Potret buruk kesehatan reproduksi remaja

*Pemenang Kedua Lomba Tulisan Media Cetak BKKBN September 2005


Remaja merupakan kelompok masyarakat yang sangat rentan dengan pengaruh negatif dari luar. Gempuran budaya asing yang masuk ke tanah air melalui media massa membuat remaja terjebak dalam pergaulan seks bebas dan narkoba. Akibatnya kesehatan reproduksi para remaja menjadi terancam.

*** Santi Virgianti ***

TIGA remaja putri belasan tahun rela melepaskan keperawanannya begitu saja demi mencapai apa yang diinginkan. Satu orang rela menawarkan diri kepada seorang sutradara agar bisa diorbitkan sebagai artis. Gadis satunya rela melepaskan keperawanannya asal bisa mendapatkan pria idamannya. Sedangkan gadis ketiga bersedia menjual diri dan dibooking dalam mobil bahkan toilet umum supaya bisa mendapatkan banyak uang. Cerita tersebut merupakan synopsis dari film remaja Virgin (Ketika keperawanan dipertanyakan). Film itu cukup menyedot perhatian para anak baru gede (ABG) dan remaja di tanah air. Menurut sutradara, cerita film diangakat dari potret kehidupan remaja Indonesia saat ini.
Kalau memang apa yang dikatakan sang sutradara itu benar, artinya fenomena tersebut merupakan cermin buruk dari kesehatan reproduksi remaja Indonesia. Hal itu diperkuat lagi dengan beberapa hasil penelitian perilaku seksual remaja di beberapa kota. Surakarta misalnya, 73 % kehamilan remaja pranikah (Istiati 1991). Kemudian, 80 % remaja Jakarta yang hamil melakukan hubungan seks (bersenggama) di rumah sendiri (Affandi 1985), 13 % dari 846 pernikahan di Yogyakarta didahului dengan kehamilan (UII Yogya 1984), 62 % dari 29 mahasiswa melakukan ‘kumpul kebo’ (Dasaung 1984). Bagaimana dengan Sumsel sendiri ?
Prof dr Usman Said SpOG dalam pidato pengukuhan guru besarnya melaporkan, pasien terbanyak yang mengunjungi poliklinik ginekologi remaja di rumah sakit dr Mohammad Husein (RSMH) Palembang tahun 2004 adalah remaja dengan kasus perkosaan. Kondisi tersebut agaknya mirip dengan di negara-negara Barat yang setelah diteliti terungkap kalau telah terjadi kekerasan seksual. “Kekerasan seksual ini terselubung dengan selimut acara-acara remaja seperti dating atau camping,” jelas guru besar dari Departemen Obstertri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran (FK) Unsri ini
Dengan beberapa kondisi diatas, remaja sangat rentan terkena penyakit menular seksual (PMS) atau Sexual transmitted disease dan HIV/AIDS. ApalaApalagi PMS tersebut sudah banyak menyerang warga Palembang.
Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Palembang bekerja sama dengan Lembaga Graha Sriwijaya (LGS) Palembang November 2003-Desember 2004, menyebutkan, ratusan warga Palembang terkena infeksi menular seksual (IMS). Yakni Raja Singa (sifilis), kencing nanah atau gonorrhoe (GO), infeksi mulut rahim, infeksi saluran kencing, jamur di kelamin, bakteri di Vagina dan keputihan. Diantara warga yang terkena itu, sekitar 30 % diantaranya adalah remaja.
Dari seluruh penyakit tersebut ternyata, 77,8 % atau sebanyak 705 kasus merupakan penyakit infeksi mulut rahim (servicitis). Selanjutnya, 383 kasus (42,8 %) bakteri di Vagina (bacterial vaginosis), 24 % atau 19 kasus infeksi saluran kencing, 13 kasus 16,7 % infeksi saluran kencing non GO, 12,3 % atau 143 kasus jamur (kandiasis) dan keputihan (trikomoniasis) 5,6 % atau 58 kasus. Selanjutnya, Sifilis (2,3%) atau 140 kasus, dan positif Kencing nanah (15%) 30 kasus.
Sementara data tentang HIV/AIDS pada Maret 2005 dari Depertemen Kesehatan RI juga menunjukkan, sekitar 54 persen penderita HIV/AIDS di Indonesiaa saat ini adalah kaum muda yang berusia antara 20-29 tahun dan kebanyakan dari mereka adalah pengguna narkoba jarum suntik.

Remaja, kelompok resiko tinggi

Para ahli sepakat mengenai usia remaja, yakni kisaran usia 12-21 tahun. Alderman dalam bukunya Contempory Adolescen Gynekologi membagi tingkatan ,asa remaja dipandang dari sudut aktivitas dan proses berfikirnya. Yakni awal remaja (12-14 tahun), pertengahan (15-17 tahun) dan akhir (18-21 tahun). Dilihat dari batasan usia, asa remaja merupakan masa dimana sudah lewatnya masa kanak-kanak tetapi belum mencapai masa dewasa.
Sehingga menimbulkan berbagai kerawanan. Karena pada masa itu, mereka masih mencari jati diri dan mudah sekali dipengaruhi oleh lingkungan. Pada masa ini juga rasa ingin tahu dan keinginan mencoba hal baru sangat besar. Ditambah lagi dengan terjadinya perubahan secara fisik yang cepat. Seperti layaknya orang dewasa, mereka mengalami perubahan postur tubuh, perubahan alat reproduksi sekunder, perubahan alat genital.
Perubahan fisik dan belum matangnya emosi tersebut diperparah dengan masuknya budaya asing melalui media massa. Belum lagi dengan badai narkoba dan minuman keras yang menerpa.

Pentingnya pendidikan seks
Dengan berbagai factor diatas menyebabkan remaja mudah terjerumus dalam pergaulan tak sehat seperti freesex yang berdampak pada kesehatan reproduksi. Karena itulah dibutuhkan penanganan kesehatan reproduksi yang menyeluruh. Dimulai dari informasi yang benar mengenai seks dan kesehatan reproduksi.
Penanganan kesehatan reproduksi remaja di Indoensia sebenarnya dimulai sejak tahun 1980-an, yang dikenal dengan sebutan "pendidikan seks". Akan tetapi upaya yang dilakukan pada tahun-tahun tersebut masih lebih banyak dilakukan LSM dan swasta LSM dan swasta serta dalam bentuk proyek-proyek percontohan. Program tersebut baru menjadi kebijakan nasional tahun 2000.
Informasi mengenai kesehatan reproduksi tersebut sudah harus dimulai sejak dini dan dari keluarga. Anak perlu mengetahui alat-alat reproduksi yang dimilikinya. Mereka juga perlu diberi penjelasan mengenai kematangan alat fungsi seksual yang ditandai dengan menstruasi pertama atau mimpi basah. Jangan sampai mereka mencari tahu informasi di luar yang tidak jelas kebenarannya. Kalau perlu, pendidikan seks dimasukkan ke dalam kurikulum di sekolah.
Selain itu, dibutuhkan juga pusat-pusat pelayanan kesehatan reproduksi remaja. Bisa itu berupa pusat informasi atau pelayanan konsultasi, seperti kegiatan mobile clinic yang dilakukan oleh Centra Remaja Sriwijaya (Cre-Sy) dan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) yang didukung oleh Badan Koordinasi Keluarga Berencana (BKKBN) Sumsel. Mobile clinic tersebut merupakan pelayanan konsultasi medis khususnya mengenai kesehatan reproduksi yang mendatangi sekolah-sekolah dan perguruan tinggi.
Atau bisa juga dibuat klinik-klinik ginekologi khusus remaja. Sebab, penanganan pasien ginekolog remaja berbeda pasien lainnya. Dibutuhkan penanganan khusus agar pasien percaya kepada tim medis yang memeriksa sehingga bisa mengobati penyakit reproduksi yang dideritanya. Klinik ginekologi harus terasa lebih santai, bersahabat dan terbuka.

(Penulis adalah wartawan Harian Pagi Sumatera Ekspres)