virgianti

Friday, March 03, 2006

Misanah, pasien tumor vagina

Saat tumor mengganas, suami kabur

Di saat Misanah berjuang melawan ganasnya tumor di vagina, si suami pergi meninggalkannya. Apalagi, untuk berobat, Misanah harus menempuh perjalanan cukup jauh, yakni dari Jambi ke Palembang.

SANTI-Palembang

KASIHAN benar nasib Misanah (36). Ibu beranak satu ini menderita tumor di kemaluannya (vagina). Ketika ditemui koran ini beberapa hari lalu di sal kebidanan RSMH, warga Jambi ini terlihat sangat lemah. Badannya yang kurus seolah hanya kulit pembungkus tulang. Sedangkan di bagian kemaluannya ada daging tumbuh sebesar bola kasti. Wajahnya yang tirus terlihat meringis karena menahan rasa sakit akibat tumor ganas yang dideritanya itu.
Menurut Herman, kakak Misanah, tumor ini sudah menyerang ketika adiknya masih gadis. Saat itu, benjolan itu baru sebesar ibu jari. “Tumor itu berhasil diangkat di RSUD Jambi,” terangnya saat menjaga adiknya.
Kemudian, tumor muncul lagi pada tahun 2001. Karena tumornya sudah besar, maka dia dirujuk ke RSMH Palembang. Diringi dengan kambuhnya tumor, Solihin suami Misanah pergi begitu saja meninggalkan dia dan dua anaknya. Padahal, saat itu, Misanah lagi butuh dukungan moril dan materil dari sang suami.
Karena itu, keluarga Misanah, harus menjual dua ekor kerbau peliharaan untuk membantu biaya pengobatannya. “Saya ini kerja di sawmill mbak, sedangkan orang tua kami sudah tua dan hanya memiliki kerbau yang setiap hari membantu kerja di sawah. Namun, karena butuh biaya untuk operasi, kerbau terpaksa harus dijual,” ceritanya.
Dengan uang hasil penjualan kerbau, Misanah bisa dioperasi di RSMH Palembang. “Daging sebesar telur ayam berhasil dikeluarkan, “ kata Herman.
Kemudian, tumor itu kembali muncul lagi pada tahun 2004. Misanah kembali diboyong ke Palembang. Sesampai di rumah sakit, tim medis mengatakan, dia harus menjalani pengobatan kemoterapi beberapa kali seminggu di RSMH. “Menurut dokter, kemoterapi tidak harus menjalani rawat inap, jadi kami disuruh pulang, datang lagi pada hari yang dijadwalkan,” terangnya.
Tetapi, karena tidak memiliki keluarga di Palembang, maka keluarganya memaksa agar tinggal di rumah sakit. Sayangnya, pihak rumah sakit tidak mengizinkan Misanah masuk sal. “Alasannya karena tempat tidur lagi penuh,” cetus Herman. Terpaksa, Misanah harus tidur di gang depan sal kebidanan sambil menunggu jadwal kemoterapi berikutnya.
Ketika dikonfirmasi masalah itu, Kepala Instalasi kebidanan RSMH dr Amir Fauzi SpOG terkejut. “Masak ? Dimana pasiennya, ayo kita lihat, “ajak Amir kepada wartawan koran ini Senin (14/11).
Tiba disana, Amir langsung memeriksa tempat tidur di sal kebidanan. Saat dilihatnya masih banyak tempat tidur yang kosong, Amir langsung menginstruksikan agar Misanah segera dipindahkan.
Menjelaskan hal itu, Amir mengaku tidak mengetahui kejadian sebenarnya. Menurutnya, memang secara prosedural, pasien kemoterai memang tidak menjalani rawat inap. Namun, ada pertimbangan sosial untuk bisa menerima pasien rawat inap. Salah satunya pertimbangan rumah jauh, tidak ada keluarga dan warga miskin. “Dengan pertimbangan itu, pasien harus tetap diterima rawat inap,” jelasnya. (*)

0 Comments:

Post a Comment

<< Home